Resume Buku: Penerapan Mind Mapping dalam Kurikulum Pembelajaran
Penulis
menggabungkan konsep dasar mind mapping dengan
konsep pendidikan modern yang terintegrasi dengan kurikulum pembelajaran.
Dengan pendekatan kontekstual dan penyajian yang aplikatif, dalam bukunya ini
penulis mengajak semua pihak yang peduli dengan kemajuan pendidikan di negeri
ini untuk bersama-sama membuka wawasan, berpikir terbuka serta mengeksplorasi
konsep mind mapping agar dapat
diterapkan dalam kurikulum pembelajaran.
Buku ini terdiri
dari 4 Bab, adapun penjelasannya sebagai berikut.
Bab 1
(Mengenal Mapping Lebih Dekat)
Dalam bab ini
dijelaskan beberapa hal, misalnya sejarah singkat mapping, kegunaan mapping,
keunggulan mapping, dan aturan dalam pembuatan mapping. Penulis mengemukakan
pengertian mapping adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan
menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan.
Mapping tidak
berarti hanya cocok digunakan oleh peserta didik yang memiliki kecenderungan
visual saja, sebab pada praktiknya proses belajar selalu melibatkan ketiga
aspek, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Hanya saja dengan menggunakan
mapping, maka ide, gagasan, permasalahan, solusi, atau apapun yang terlintas di
kepala dan membebani otak bawah sadar kita yang selama ini sulit direkam, maka
dapat dengan mudah langsung dituliskan di atas selembar kertas.
Dengan kata lain
mapping adalah metode efektif untuk menuangkan semua gagasan yang ada di dalam
pikiran. Dalam bab ini juga diberikan beberapa contoh gambar mind map dengan
berbagai tema, yaitu Bloom’s Taxonomy,
Study Skills, BEST (BEcoming a Super
Teacher), Learning Management Program, Psychomotor Domain, dan Cognitive Domain.
Bab 2
(Mapping dalam Tinjauan Teori Pendidikan)
Dalam bab ini
dijelaskan tentang teori konstruktivisme (construction)
Piaget, teori kecerdasan berganda (multiple
intelligences) Howard, mapping dan teori belajar penguatan Skinner, mapping
dan teori belajar fase Gagne, mapping dan teori koneksionisme (connectionism) Thorndike, mapping dan
teori belajar discovery Jerome
Bruner.
Salah satu
contoh kesesuaian teori Paget dengan mapping adalah:
<!--[if !supportLists]-->·
<!--[endif]-->Dengan mapping, peserta didik dapat menuangkan
ide mereka berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya, sesuai
dengan kreativitas masing-masing.
<!--[if !supportLists]-->·
<!--[endif]-->Mapping memberikan ruang kognitif yang besar
melalui analisis yang dibuat sebanyak mungkin.
<!--[if !supportLists]-->·
<!--[endif]-->Mapping menggambarkan dan mengomunikasikan cara
berpikir yang terstruktur.
Beberapa
kesesuaian mapping dengan teori kecerdasan berganda (multiple intelligence) dari Howard Gardner antara lain:
<!--[if !supportLists]-->·
<!--[endif]-->Anak yang cerdas bahasa sangat cocok belajar
menggunakan mapping, karena mapping menggunakan keyword dalam pencatatan.
<!--[if !supportLists]-->·
<!--[endif]-->Anak yang cerdas intrapersonal bila menggunakan
mapping, dapat menyalurkan gagasan, ide, dan kreativitasnya dengan maksimal.
Berdasarkan
teori Gagne, mapping juga merupakan salah satu cara yang tepat untuk menyimpan
banyak informasi ke dalam memori jangka panjang. Di samping itu mapping juga
dapat mengakomodasi semua fase belajar Gagne.
Kesesuaian teori
Thorndike dengan mapping diantaranya adalah menurut Thorndike, asosiasi antara
stimulus dan respon mengikuti “hukum latihan”, yaitu semakin sering suatu
tingkah laku diulang dan dilatih maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Hal
ini sangat tepat apabila diterapkan dalam mapping, sebab mapping memiliki
formula untuk melatih daya ingat yang mampu menyimpan data informasi seumur
hidup (long term memory).
Adapun
kesesuaian teori Bruner dengan mapping adalah agar peserta didik dapat memiliki
kemampuan analisis, penalaran dan critical
thinking yang tinggi, mereka harus lentur, terbuka dalam mengakomodir
setiap informasi dan dapat mengelola informasi tersebut menjadi sebuah paparan
yang padat, sederhana dan lugas sebagaimana sebuah mapping.
Bab 3
(Penerapan Mapping dalam Berbagai Model Belajar)
Dalam bab ini
dijelaskan tentang penerapan mapping dalam model pembelajaran ekspositori,
penerapan mapping dalam model pembelajaran inkuri, penerapan mapping dalam
model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAIKEM), penerapan mapping dalam model pembelajaran peningkatan kemampuan
berpikir, penerapan mapping dalam model pembelajaran terpadu.
Pada setiap
model pembelajaran tersebut dikemukakan tentang karakteristik model
pembelajaran, prinsip pembelajaran maupun langkah-langkah dalam penerapan
mapping terkait dengan model pembelajaran tersebut.
Bab 4 (Penerapan
Mapping dalam Berbagai Pelajaran)
Dalam bab ini
dijelaskan tentang beberapa penerapan mapping dalam pembelajaran, diantaranya:
penerapan mapping dalam pembelajaran IPA (IPA SD, IPA SMP, IPA/Biologi SMA),
penerapan mapping dalam pembelajaran IPS (IPS SD, IPS/Geografi SMP,
IPS/Sosiologi SMA), penerapan mapping dalam pembelajaran bahasa Indonesia
(Bahasa Indonesia SD, SMP, dan SMA), penerapan mapping dalam pembelajaran PKN (SD,
SMP, SMA), penerapan mapping dalam pembelajaran matematika (SD, SMP, SMA).
Sebagai contoh,
dalam pembelajaran IPA SD dengan tema projek “Lingkunganku” diberikan contoh
materi dan contoh mpping dari materi tersebut. Begitu pula di contoh materi
untuk IPA SMP, dengan projek “Energi alternatif” diberikan contoh pembuatan
baterai jeruk nipis dan pada mappingnya digambarkan yang berhubungan dengan
baterai jeruk nipis, misalnya tentang klasifikasi jeruk nipis, kandungan jeruk
nipis, serta cara membuat baterai tersebut.
Untuk
pembelajaran matematika, di bab 4 ini diberikan contoh projek “Problem Solving”
untuk Matematika SD. Siswa diberikan contoh soal cerita matematika kemudian
menggambarkan yang berhubungan dengan soal serta solusinya dalam bentuk
mapping.
Pada bagian akhir buku ini ditampilkan foto-foto kegiatan pelatihan yang berhubungan dengan mind mapping serta beberapa contoh mind mapping dari peserta pelatihan maupun arsip pribadi penulis.
Penulis: Yusminiwati

