Guru dan Karyawan SMP Islam Athirah 1 Makassar Gelar Doa Bersama (Duka Mereka, Duka Kita Semua)
Oleh : Fitriani,
S.Pd
(Guru PKn_SMP Islam Athirah 1 Makassar)
Pagi ini, Selasa (19/01/2021), Saya, serta seluruh guru dan karyawan di SMP Islam Athirah 1 Makassar berdoa bersama untuk saudara-saudara kita yang tengah berduka. Beberapa kabar duka silih berganti. Belum hilang angin duka mengenai jatuhnya pesawat sriwijaya air SJ 182, pada 9 Januari 2021 dengan rute Jakarta – Pontianak. Pesawat tersebut mengangkut 62 orang, yang terdiri dari 46 anggota dewasa, 6 orang kru dan 3 orang bayi. Selang beberapa hari berlalu, Indonesia kembali kehilangan sosok ulama yang begitu dicintai oleh umat negeri ini yakni Syekh Ali Jaber. Beliau tidak terlahir di Indonesia, tetapi memikirkan kemajuan bangsa Indonesia. Beliau merupakan ulama besar, guru dan dai’I ilallah. Kita semua kembali dikejutkan oleh kabar duka dari saudara – saudara kita yang berada di Sulawesi Barat. Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR mengguncang Sulawesi Barat, terkhusus di Kota Majene dan Mamuju.
Gempa pertama kali terjadi pada hari Kamis (14/01/2021) dengan kekuatan 5,9 magnitudo. Keesokan harinya, kembali terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar,hingga meluluh lantahkan bangunan. Mulai dari rumah sakit, kantor pemerintahan, hotel hingga rumah warga rata dengan tanah akibat amukan bumi. Beberapa warga tertimpa reruntuhan bangunan. Tidak banyak diantara para korban yang tidak dapat lagi diselamatkan. Bahkan setelah beberapa kali guncangan susulan, BMKG mengeluarkan anjuran untuk berhati – hati karena, ini dapat berpotensi tsunami.
Belum
hilang perasaan duka dikarenakan bencana gempa, duka lain menghampiri. Amukan
air menghantam Kalimantan Selatan pada Jumat (15/01/2021) . nyaris seluruh
wilayah rata dengan air. Warga meninggalkan rumah mereka mencari tempat aman.
Beberapa warga bahkan belum ditemukan. Para relawan berbondong – bondong
membantu dan menyalurkan bantuan. Uluran tangan dari berbagai pihak diharapkan
dapat meringankan beban para korban.
Kita
yang melihat duka ini, hanya dapat membantu dari kejauhan. Entah apa yang sedang terjadi pada
negeri kita. Mengapa silih berganti cobaan datang menghampiri. Apakah ini peringatan
dari bumi, disebab ketamakan para penghuninya? atau ini teguran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, teruntuk umatnya yang terperangkap dalam
maksiat. Lalu peringatan seperti apalagi yang harus kita tunggu untuk kembali kejalan yang benar. Kian
hari kabar duka terus terdengar, terngiang di telinga. Namun, terkadang hanya
seperti makan cabai. Pedas diawal. Ingin rasanya diri ini diam, tidak melakukan
apapun, tidak melangkah kemanapun, tetapi apakah itu dapat menyelamatkan diri dari maut.? Tentu
tidak.
Sekarang kita hanya dapat berbenah untuk menjadi lebih baik. Berusaha untuk terus menebar kebajikan. Dengan harapan, dapat memiliki banyak bekal untuk dibawa pulang nantinya. Semoga jalan taubat senantiasa terbuka lebar. Untuk jiwa yang gelap, pribadi yang lalai.

