Mencintai Walau Belum Berjumpa
Oleh : Arny Afriana,S.Si
Pernah
mencintai? Pasti. Setiap manusia pasti pernah mencintai. Rasa cinta kepada
orang tua,saudara, anak, pasangan, kerabat, sahabat dan orang-orang dekat di
sekitar kita. Begitu pun dengan saya. Rasa-rasa cinta tersebut pernah dan
sampai sekarang saya rasakan. Rasa cinta itu berawal dari sebuah perjumpaam, ya
perjumpaan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Dari perjumpaan awal tersebut
dilanjutkan dengan sebuah proses, proses yang berbeda untuk setiap orang yang
kita cintai. Dari proses tersebut akan semakin memperdalam rasa cinta kita. Rasa
cinta saya kepada ayah dan ibu diawali dengan perjumpaan saya dengan mereka
saat saya menghembuskan nafas pertama kali di muka bumi. Rasa cinta saya kepada
anak-anak saya berawal dari perjumpaan saya dengan mereka saat mereka pertama
kali menghebuskan nafas di muka bumi. Rasa cinta saya kepada suami saya berawal
dari sebuah perjumpaan di suatu tempat. Rasa cinta saya terhadap rekan-rekan
saya juga berawal dari perjumpaan di suatu dan sebuah kondisi yang berbeda
beda. Intinya rasa-rasa cinta itu muncul berawal dari sebuah perjumpaan.
Ternyata
perjumpaanlah yang akan memperdalam rasa cinta kita. Saya mencintai nenek
moyang, walaupun tidak pernah berjumpa, tetapi jujur rasa cinta saya tidak
sebesar rasa cinta saya kepada kedua orang tua yang pernah saya lihat
langsung melalui perjumpaan. Namun ada rasa cinta di dalam hati saya yang
begitu besar yang bahkan mengalahkan rasa cinta saya kepada siapa pun di muka
bumi ini, yaitu rasa cinta saya kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Di
Maulid Nabi besar Muhammad SAW tahun 2020 ini, saya tiba-tiba menelaah rasa
ini. Aneh, ajaib, luar biasa ada sebuah rasa cinta yang tercipta di dalam hati saya
yang begitu besar kepada seorang manusia yang tidak pernah saya jumpai. Saya yakin rasa ini juga bersemayam di hati
setiap muslim beriman di muka bumi ini. Kadar rasa tersebut bersemayam di dalam
hati saya semakin meningkat setiap pertambahan usia. Rasa cinta yang merindukan
perjumpaan, rasa cinta yang menggerakkan diri untuk mengikuti semua nasehat
beliau melaui hadist-hadistnya, rasa cinta yang memicu diri untuk selalu
berusaha berbuat baik, rasa cinta yang membuat hati bergemuruh emosi jika ada
pihak-pihak yang menjelekkan beliau. Ya rasa cinta tersebut mampu tercipta di
dalam hati saya dan di setiap hati muslim beriman di muka bumi ini karena kuasa
Allah SWT. Dengan kuasanya Allah menciptakan rasa tersebut di hati-hati kita
untuk seorang manusia mulia walaupun belum pernah berjumpa, karena manusia
tersebut bukan manusia biasa. Beliau adalah utusan Allah SWT. Sehingga Allah
SWT menciptakan “keajaiban” tersebut di hati-hati setiap muslim yang beriman.
Ya dengan IMAN lah kita bisa mencintai Rasulullah begitu mendalam.
Orang-orang
yang sangat berjasa menumbuhkan rasa cinta saya kepada Rasulullah Muhammad SAW
tentu saja adalah kedua orang tua saya, Ayah dan Ibu saya yang tercinta. Mereka
berdualah yang mendidik saya, membekali saya dengan pendidikan akhlak,
menceritakan saya tentang betapa berjasanya Rasulullah Muhammad SAW terhadap
terang benderangnya hidup kita di dalam Islam. Orang-orang selanjutnya adalah
semua guru-guru saya yang telah mendidik saya untuk menjadi manusia beriman.
Semoga Allah SWT membalas dengan kebahagyaan syurga untuk kedua orang tua dan semua
guru-guru saya. Saya yakin doa semua umat muslim yang beriman di
setiap penghambaan kepada Rabb melalui sholat adalah perjumpaan yang
sesungguhnya kelak di Syurga dengan Rasulullah Muhammad SAW, Amin ya Allah.
Tugas saya sekarang adalah meneruskan rasa cinta tersebut ke generasi-generasi selanjutnya, pada anak-anak kandung dan anak-anak didik saya. Dengan membekali mereka dengan iman. Senantiasa berusaha menumbuhkan rasa cinta mendalam ke Rasulullah Muhammad SAW walaupun mereka belum pernah jumpai. Karena dengan rasa cinta itulah generasi-generasi kita tersebut insyaAllah kelak akan menjadikan peradaban Islam semakin cemerlang, menebar kebaikan dan cinta di muka bumi ini. Amin YRA.

