image

Apakah (R)asa Itu Masih Sama

Oleh : Hilma Yusuf, S.Pd.

Salah satu amalan yang mengalir terus, tidak akan terputus  kepada hamba Allah adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama. 

Menjadi guru adalah cita-cita yang sejak lama saya inginkan. Menjadi seorang pendidik dimata saya itu luar biasa,  mungkin karena pengaruh lingkungan atau pengaruh orang terdekat.

Saat masih kecil, kalau ditanya apa cita citamu kelak saat dewasa, yang paling saya ingat saat itu jawaban saya adalah ingin menjadi guru seperti ayah. Ingatan yang paling melekat tentang sosok guru saat SD adalah mereka adalah orang yang sangat wajib di hormati dan di teladani setelah Rasulullah SAW dan orang tua tentunya.

Saat kelas 1 SD meski ketika belajar matematika kita salah menjumlah atau mengurang, kami kadang mendapatkan pukulan atau cubitan yang lumayan berbekas.

Namun rasa hormat dan patuh tidak akan hilang, karena kami sadar di balik pukulan cambuk dan cubitan kuku tajam yang berbekas hingga beberapa hari, ada rasa sayang.

Guru-guru kami memberinya dengan rasa kasih sayang, dengan harapan besar bahwa pada esok hari kamilah generasi penerus bangsa. Generasi yang akan melanjutkan cita-cita bangsa tercinta.

Pukulan dan cubitan itu adalah pendorong bagi kami, untuk belajar giat dan bekerja keras mewujudkan segala cita-cita. Biasanya setelah pulang sekolah dengan berjalan kaki dan mendaki bukit, lumayan membuat kaki pegal.

Maklum sekolah kami terletak di tengah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan.  Meskipun kampung kami adalah daerah lintas pariwisata, tetapi untuk mencapai jalan raya kami harus bersusah payah mendaki bukit. 

Di tengah perjalanan, biasa kami saling bercerita atau mengulas kembali kejadian-kejadian yang terjadi di kelas, misalnya siapa-siapa saja yang hari ini mendapat "hadiah" pada betis atau di lengannya. Kami bercerita sambil tertawa-tawa tanpa merasa marah atau sakit hati.

Salah satu alasan juga kenapa memilih profesi pendidik, sebagai cita cita adalah saat kelas 3 SD saya sangat mengagumi sosok guru kelas kami saat itu.

Beliau tidak hanya cantik, lembut,  baik hati serta sangat cerdas dan sabar. Beliau tiap pagi mendampingi kami di kelas dengan semangat. Selalu membuat kelas menjadi sangat seru dengan metode mengajar, yang mungkin kalau dibandingkan dengan sekarang sangat luar biasa. Apalagi metode itu diterapkan  tanpa pernah mengikuti pelatihan dimana-mana,  atau pengembangan profesi. Beliau selalu datang membawa cerita baru yang memotivasi belajar.

Sekarang setelah menjalani profesi sebagai pendidik kurang lebih 15 tahun, kadang pertanyaan muncul sendiri dalam benak saya "apakah ini asa yang sudah kesampaian atau Apakah saya sudah mampu menjadi seperti guru-guru kami yang mengukir berbagai pengalaman, ilmu dan keteladanan selama saya menempuh pendidikan?. 

Kalau dikatakan senang akhirnya cita-cita sudah tercapai, bohong kalau saya berkata tidak. Namun apakah puas dengan pencapaian itu, rasanya belum. 

Rasa masih sangat banyak kekurangan dan keinginan yang belum bisa diwujudkan. Semoga bisa mencapai Asa dan Rasa seperti dulu.

Previous PostMencintai Walau Belum Berjumpa
Next PostTentang Kita