SMA Islam Athirah Bone Gelar Peringatan Isra Miraj Selama Dua Hari
Selasa 1 Maret 2022 yang bertepatan dengan 28 Rajab 1443 H adalah puncak gelaran peringatan Isra Miraj yang dilaksanakan oleh SMA Islam Athirah Bone. Pada puncak gelaran ini, OSIS SMA Islam Athirah Bone bekerjasama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Fatimah Kalla Sekolah Islam Athirah Bone mengadakan kajian yang menghadirkan Drs. H.M. Tahir, M.Pd.I. Beliau adalah salah satu dai kondang di Kabupaten Bone yang juga merupakan salah satu dosen di IAIN Bone.
Sehari sebelumnya, peringatan Isra Miraj yang dihelat oleh SMA Islam Athirah Bone diperingati dengan mengadakan berbagai lomba. Lomba yang dikompetisikan adalah Ranking 1 dan Quiziz yang berkaitan dengan Isra Miraj, serta Desain Poster yang diikuti oleh seluruh siswa SMA Islam Athirah Bone.
Sebelum kajian dimulai, Wakil Direktur SIA Wilayah 3, Syamsul Bahri, S.Pd.I.,M.Pd., membuka dengan memotivasi seluruh hadirin, “Momen Isra Miraj harus menjadi momentum untuk menaikkan kualitas diri. Kita berupaya agar tiap tahun, setiap memperingati Isra Miraj, kualitas diri terutama dalam hal ibadah, harus lebih baik dan lebih baik. Dengan kajian yang diadakan oleh OSIS dan DKM ini, kita ambil pelajaran dan hikmahnya.”
Drs. H.M. Tahir, M.Pd.I. Selaku pemateri kemudian memulai kajiannya dengan membahas hikmah dari surah Al Ashr, “Dalam hampir tiap kajian yang saya bawakan, saya memasukkan surah Al Ashr sebagai salah satu materi, mengapa? Karena surah ini mengingatkan kita betapa pentingnya untuk menghargai waktu. Semua manusia memiliki jatah waktu 24 jam setiap hari, baik pejabat, orang biasa, orang miskin, orang kaya, semua sama. Jika kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik, maka tentu kita akan menjadi golongan yang merugi.”
Ia melanjutkan dengan menyampaikan konten utama kajian yang ia bawakan dengan menyampaikan sejarah Isra Miraj hingga hikmah shalat yang identik dengan peristiwa tersebut. “Isra miraj itu sebuah peristiwa yang memegang peranan penting, sebuah perjalanan yang tidak bisa dijelaskan secara logis namun diyakini secara imani. Ia bermakna sebuah pola hubungan yang vertikal yaitu ibadah kepada Allah SWT (Hablumminallah) dan horizontal sebagai bentuk perilaku sosial kepada sesama (Hablumminannash). Mengapa sholat bisa mempererat hubungan sosial? Karena dalam doa dan bacaan sholat, sarat akan makna mendoakan orang-orang sholeh, orang-orang mukmin. Jadi orang yang sholat adalah orang yang memiliki kepekaan sosial.”, tegasnya.
“Sholat adalah ibadah yang utama karena ia adalah Ibadah wajib pertama yag diwajibkan dimana penerimaannya langsung dari Allah SWT. Selain itu, sholat merupakan tiang agama dan menjadi amalan pertama yg dihisab di hari akhir. Adapun fungsi shalat adalah sebagai pengakuan bhwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan juga sebagai pengingat kpd Allah, serta shalat juga mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar”, tutup pria berusia 60 tahun tersebut. (Eva Rukmana/SMA Athirah Bone)

