Guru SMA Islam Athirah 1 Makassar Ikuti Sosialisasi Roots Indonesia
SMA Islam Athirah 1 Makassar menggelar kegiatan “Sosialisasi
Roots Indonesia.” Kegiatan ini dipandu langsung oleh Kepala SMA Islam Athirah 1
Makassar melalui aplikasi Zoom Meeting, Selasa
(03/08/2021). Kegiatan sosialisasi ini dimulai pukul 13.30 hingga pukul 14.50 Wita.
Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar Tawakkal Kahar, S.Pd., M.Pd. menyampaikan inti dari
program Roots Indonesia.
“Agenda siang ini adalah mengenai program Roots Indonesia.
Program ini adalah bergerak di bidang anti perundungan,” ucap Tawakkal.
Di awal paparannya, Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar
menampilkan kondisi terkini data perundungan di Indonesia. Sehingga perlu
dilakukan pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di satuan pendidikan dengan
cara memberikan pemahaman dan penguatan kepada sekolah melalui program anti
perundungan. Pemerintah memberikan bantuan untuk pencegahan perundungan,
sasarannya adalah sekolah penggerak sejumlah 382 sekolah dengan peruntukan
Program Pencegahan Perundungan di Sekolah.
Adapun definisi dari perundungan atau bullying adalah segala bentuk penindasan atau kekerasan yang
dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat
atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan biasanya
dilakukan secara terus menerus.
Pelaksanaan program Roots Indonesia akan dimulai di bulan
September 2021. Adapun tahapan program tersebut adalah: (1) Pemilihan
fasilitator guru, (2) Membagikan survei awal & form pemilihan, (3)
Melakukan pemilihan agen perubahan (siswa), dan (4) Pelaksanaan program Roots
dengan agen perubahan.
Dalam sosialisasi ini juga dijelaskan tentang mekanisme
pengisian survei yang akan diberikan bagi guru dan siswa mengenai pelaksanaan
program Roots Indonesia.
Setelah kegiatan sosialisasi kemudian para guru dan siswa mengisi survei sebagai bentuk partisipasi aktif dalam program Roots Indonesia terutama untuk sekolah yang termasuk dalam Sekolah Penggerak. Nantinya, semua sekolah di Indonesia akan menjadi sekolah penggerak.

