Haru Biru Lepas Buah Hati di Welcoming Day Asrama Athirah Bone
“Lebih baik kamu menangis karena
berpisah sementara dengan anakmu yang menuntut ilmu agama, daripada kalau kamu
sudah tua nanti menangis karena anak anak kamu lalai terhadap urusan akhirat.”
Adalah sepenggal nasihat dari KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang paling mewakili suasana haru dan sedih saat siswa-siswi SMP-SMA Islam Athirah Bone harus berpisah dengan orang tuanya.
Pada hari Minggu, (25/7) deretan
mobil dan motor tampak lalu lalang keluar dari halaman SMP-SMA Islam Athirah
Bone. Beberapa pengantar yang mengendarai sepeda motor juga tampak bergegs
meninggalkan lokasi parkir tak lama setelah barang yang menumpuk di belakang
kemudinya diturunkan.
Pemandangan haru tersaji tatkala
tampak beberapa orang tua terlihat memeluk dan mencium putra dan putrinya
sebelum dijemput oleh panitia Welcoming Day untuk melakukan tes swab antigen. Bukan
tanpa alasan, karena setelah itu orang tua tidak diizinkan lagi melakukan
kontak fisik dengan putra putrinya. Setelah hasil tes swab antigen dinyatakan
non reaktif, siswa baru akan langsung diarahkan ke asrama. Adapun barang yang
masih ada di kendaraan orang tua akan dijemput oleh panitia pengantardari
siswa.
Tentunya bukan hal yang mudah
untuk melepaskan buah hati yang selama ini tidak pernah jauh dari ayah bundanya,
kemudian tiba-tiba sudah harus menuntut ilmu di Sekolah Islam Boarding Athirah
Bone.
Beberapa siswa baru terlihat
berat untuk berpisah, tetapi tidak sedikit juga yang mencoba tegar meski sang
bunda berlinang air mata. Semuanya demi cita-cita mulia untuk meraih sukses di
dunia dan di akhirat.
Harapan besar digantungkan orang
tua kepada para siswa baru untuk meraih sebanyak-banyaknya ilmu di Asrama dan
Sekolah Islam Athirah Bone, serta memberikan sebanyak-banyaknya kelak untuk
masyarakat.
Salah satu kerabat orang tua
siswa SMP yang berasal dari Bone yang turut mengantar siswa baru sempat gemas
dan geram karena merasa panitia terlalu cepat menjemput putrinya. Wanita paruh baya tersebut merasa masih butuh
sedikit waktu untuk sekadar memeluk dan mencium putrinya yang akan memulai
babak baru di rumah kedua, Asrama dan Sekolah Islam Athirah Bone.
“Tunggu sai, kodong nak. Masih mau
ki itu sama sama dulu. Sebentar-sebentar pi,” ujarnya dengan dialek khas Bone
yang kental.
Panitia dari siswa tetap telaten
dan sabar menanti adik kelas barunya untuk diantar menuju tempat swab antigen
untuk kemudian dipandu menuju asrama putri. Nurholis_Tim Athirah Web
(@nurholismuh)

