Tren Membaca di Athirah Bone, Transformasi Membaca Kolosal Menjadi The Real Reading Day
Membaca sejatinya adalah sebuah kebutuhan bagi pelajar, namun di era digital, kebiasaan membaca buku fisik segera bergeser setelah diserang digitalisasi. Kegiatan membaca buku mulai beralih ke elektronik book atau buku digital yang lebih praktis dan murah.
Tidak berhenti sampai di situ, kondisi belajar dari rumah membuat inovasi terus dikembangkan dengan media pembelajaran yang menggunakan beragam platform. Siswa kemudian beralih ke podcast atau youtube untuk mendapatkan informasi. Di sini kebiasaan membaca mulai ditinggalkan.
Budaya membaca siswa (minimal membaca buku paket pelajarannya) akhirnya mulai ditinggalkan dengan budaya scroll sosial media. Screen time meningkat pesat seiring aktivitas siswa yang lebih banyak belajar daring di rumah.
Masalah mulai muncul ketika penerapan pembelajaran tatap muka terbatas. Siswa seolah oleng dengan kebiasaan lama, belajar konvensional menggunakan buku fisik. Mereka seolah tidak bisa memahami bila tidak dibacakan atau divisualisasikan.
Begitu pun yang terjadi di Athirah Bone, pergeseran budaya belajar di asrama dan di sekolah benar-benar mengalami penurunan yang drastis. Guru dan pembina seolah membangun kembali karakter siswa dari awal sebagai imbas pandemi dan belajar daring.
Beberapa program pembinaan karakter dan literasi saat pandemic yang bertransformasi ke moda daring sedikit menyelamatkan proses menanamkan karakter kepada siswa yang telah masuk asrama. Salah satu program yang akhirnya kembali mampu membangun budaya membaca siswa adalah Reading Day.
Kegiatan membaca massal yang telah dilaksanakan sebelum masa pandemic tersebut di era PTM terbatas ini benar-benar didukung sepenuhnya, baik oleh sekolah dan kurikulum secara umum maupun mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya.
Membaca kolosal (Reading Day) seperti puncak gunung es yang di bawahnya di dukung oleh beragam program literasi seperti student of the month, duta literasi, Athirah Membaca, dan Resensi Day. Siswa membaca bersama di hari senin bukan lagi karena terpaksa, tetapi karena kebutuhan untuk mencapai target-target pribadi lain di program literasi sekolah. Semakin jauh, membaca buat siswa di Athirah Bone seolah menjadi tren, anak-anak saling bergantian meminjam buku bacaan di antara teman-teman dan lintas angkatan. Bahkan siswa-siswi di asrama mulai menjadi kolektor buku.
Perpustakaan sekolah juga turut memberikan dukungannya dengan upaya menghadirkan beragam buku-buku fisik baru dan kekinian. Mulai dari novel-novel popular, sains, kajian agama, hingga motivasi.
Tidak ada lagi kekhawatiran siswa saat panitia dari MPO atau kesiswaan mulai memilih siswa yang akan mempresentasikan bacaannya. Mereka dengan lugas mampu mengejawantahkan isi buku yang baru saja dibacanya, mungkin lebih tepatnya yang sedang dibacanya sejak beberapa hari yang lalu.
Proses pembelajaran sastra seperti teks cerpen pun menjadi lebih mudah diajarkan karena sistem informasi di kepala siswa telah memuat beragam genre dan jenis tulisan sastra.
Kini Reading Day benar-benar dimaknai sebagai sebuah kesempatan siswa untuk melanjutkan menghabiskan buku bacaannya. Mereka seolah dikejar waktu yang hanya 45 menit itu untuk sebanyak-banyaknya menghabiskan lembaran demi lembaran bacaanya. Mereka meluncur, menyelami makna dengan kuriositas tinggi, meraih ilmu dan wawasan untuk mengembangkan diri. Nurholis_Tim Athirah Web (ig @nurholismuh)

