Siswa SMAS Islam Athirah melakukan aktifitas tanya jawab dengan salah satu pembuat kapal phinisi di Tana Beru, Bulukumba, Selasa (28/4/2026)
151 Siswa SMAS Islam Athirah Eksplorasi Proses Pembuatan Kapal Phinisi
ATHIRAH - Hari kedua Field Trip Sains, Sosial, dan Religius SMAS Islam Athirah berlangsung di pusat pembuatan kapal Phinisi, Tana Beru, Bulukumba pada Selasa (28/4/2026). Sebanyak 151 siswa kelas XI disambut oleh para panrita lopi (pengrajin kapal phinisi) yang masih mempertahankan tradisi dalam membangun kapal layar ikonik Nusantara ini.
Rombongan berangkat dari penginapan di kawasan wisata pantai Bira ke Tana Beru. Saat memasuki kawasan pembuatan kapal Phinisi, siswa langsung terpukau melihat banyaknya kerangka kapal, terkhusus kerangka setinggi 30 meter yang sedang dibangun dengan pasak kayu
"Sangat seru karena sebelumnya kami diberi pengantar melalui video di youtube, pada hari ini kami menyaksikan langsung proses pembuatannya seperti apa ," seru Arjuna, siswa kelas XI.2 sambil mengerjakan lembar tugas yang diberikan oleh guru pendamping.
Salah seorang panrita lopi, Muhammad Asri Araf yang telah memiliki pengalaman 30 tahun, memandu kelompok tur. Ia menjelaskan proses dari pemilihan kayu hingga peluncuran kapal.
"Phinisi dibuat dari kayu ulin, jati, dan merbau. Bentuk lambungnya dirancang untuk melawan ombak besar," papar Asri.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu aktifitas penting pada kegiatan ini. Siswa bertanya tentang adaptasi teknologi modern yang kemudian dijelaskan dengan sederhana oleh Asri.
"Kami tetap lakukan secara tradisional, walau sekarang pakai GPS dan mesin diesel untuk perdagangan global," ungkap Asri.
Selanjutnya para siswa diajak mengeksplorasi seluruh ruang kapal setengah jadi tersebut.
Kunjungan ini mengintegrasikan sains, sosial dengan budaya. Siswa mempelajari prinsip dalam daya apung kapal, menghubungkannya dengan ekonomi maritim Bulukumba, hingga sejarah sejak nenek moyang yang telah menjadi tradisi.
Kepala SMAS Islam Athirah, Tawakkal Kahar, S.Pd.,M.Pd melihat ini sebagai wujud nalar kritis dalam pembelajaran di lapangan.
"Siswa membaca serta mengamati apa yang mereka lihat di tempat ini, kemudian melakukan wawancara kepada para pengrajin. Itu adalah wujud dari nalar kritis anak-anak ini aktif dan itu yang menjadi salah satu tujuan kita pada kegiatan ini," jelas Tawakkal.
Kunjungan ditutup dengan foto bersama di depan kapal setengah jadi yang menjadi objek aktifitas siswa.
Kegiatan Field Trip berlanjut ke Kantor DPRD Bulukumba kemudian ke Pabrik Karet Lonsum.

