ATHIRAH SEKOLAH MASA DEPAN, WUJUDKAN GENERASI CERDAS DI ERA DIGITAL TEKNOLOGI
Oleh : Era Sofiyah
Demikianlah, sudah semestinya setiap orang tua berkewajiban memberikan pendidikan sesuai dengan fitrah anak, yaitu keimanan kepada Allah SWT. Fitrah ini merupakan kerangka dasar operasional dari proses penciptaan manusia.
Di dalamnya terkandung kekuatan
potensial untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan mengarahkannya untuk
mencapai tujuan penciptaannya.
Tentunya pendidikan tauhid dan dasar
keimanan tersebut tidak dilakukan begitu saja atau dipaksakan secara cepat
kepada anak, tetapi harus disampaikan dengan penuh kasih sayang, menyenangkan,
penuh kesabaran, ketekunan serta penuh keuletan seperti yang dicontohkan
Lukmanul Hakim maupun baginda Rasulullah SAW.
Betapapun, anak harus mendapatkan
perhatian khusus dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan
berkembang dengan wajar, baik secara jasmani, rohani, maupun sosialnya. Pemantapan
akhlak juga perlu diterapkan seiring dengan penerapan keimanan di dalam ruh dan
jiwa anak.
Karena itu, pendidikan dalam
konteks keislaman perlu dilihat sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan
berkembang, serentak dengan perkembangan individu seorang anak.
Kelak harapannya tentu akan lahir
generasi-generasi muslim gemilang yang berkhidmat bagi umat dan bangsa.
Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi sosial,
emosi dan spiritual.
Langkah Menuju Pembelajaran Masa Depan
Jauh sebelum pandemi menyeruak
dunia, yaitu pada 2014, World Innovation
Summit for Education (WISE), komunitas internasional yang membahas
transformasi pendidikan melalui inovasi, melakukan survei terkait
proyeksi rupa sebuah sekolah pada 2030.
Hasilnya, sebanyak 93 persen ahli
pendidikan yang disurvei mengatakan, mereka mendukung sekolah yang menerapkan
metode inovatif berdasarkan pendekatan-pendekatan pengajaran baru dan proses
kreatif.
Para ahli dari komunitas WISE
tersebut memprediksi, sekolah di masa mendatang akan berkembang menjadi
jaringan belajar dimana sumber daya dan teknologi akan mendukung jejaring yang
saling terkoneksi, berdialog dan bertukar informasi, serta memfasilitasi
gerakan menuju pembelajaran kolaboratif.
Masih menurut survei tersebut, 43
persen percaya bahwa konten pembelajaran akan didominasi oleh platform daring.
Sementara hanya 29 persen responden berpendapat, sekolah tradisional adalah
sumber utama pengetahuan.
Hasil survei diatas
menjadi gambaran riil pembelajaran hari ini, dengan adanya pandemi yang belum
ada ujung pangkalnya.
Model pembelajaran tersebut juga
selaras dengan kurikulum 2013 (K-13) yang diterapkan dalam sistem pendidikan
Indonesia. K-13 mengamanatkan optimalisasi peran guru dalam melaksanakan
pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher
Order Thinking Skills) di mana guru didorong untuk terus berinovasi dan
berkreasi terhadap pola pembelajarannya.
Bagaimanapun pembelajaran abad 21
akan terus berkembang dan berfokus seiring
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sehingga dalam proses
pembelajaran harus mencapai kecakapan berpikir dan belajar siswa. Konsep ini
juga mengubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning) menjadi
berpusat pada siswa (student-centered
learning).
Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah
siswa dapat menghormati, menghargai dan menerima siswa lain sebagai mana adanya
komunikasi dan relasi yang efektif.
Hal ini sangat diperlukan sebab suasana komunikasi yang efektif dari
peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan
kemudian memfungsikan dirinya dalam masyarakat secara optimal.
Hal tersebut tentunya sejalan dengan
dunia masa depan di mana siswa harus memiliki keterampilan abad ke-21, di
antaranya memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif bekerja sama, dan
komunikasi.
Kiranya, agar pembelajaran di masa
depan bisa terlaksana dengan baik, dibutuhkan sumber daya yang berkompeten
dalam kegiatan pembelajaran, terutama bagi guru yang menjadi ujung tombaknya.
Guru harus memiliki keterampilan proses pembelajaran yang baik sehingga mampu
memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan sehingga siswa
bisa menguasai keterampilan abad-21.
Athirah, Sekolah Masa Depan
Melihat perkembangan ilmu
pengetahuan dan digital teknologi yang semakin pesat, kiranya pendidikan Islam
dituntut untuk bergerak dan mengadakan inovasi-inovasi dalam pendidikan.
Untuk itulah, pendidikan Islam perlu
di desain sedemikian rupa, demi menjawab tantangan perubahan zaman, baik pada
sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumberdaya insaninya, lembaga-lembaga dan
organisasinya, serta merekonstruksi metode atau model pembelajaran yang
digunakan di dalam pendidikan Islam mengikuti tuntutan anak modern yang selalu
kritis dan lebih berpikiran maju.
Selanjutnya, agar pendidikan Islam
terus berkembang dan selalu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, maka perlu adanya integrasi antara pendidikan Islam tradisional
(dayah/pesantren) dan pendidikan Islam modern.
Pendidikan dayah/pesantren
diharapkan tetap dapat menjaga
originalitas ulama. Sedangkan pendidikan Islam modern diharapkan dapat
menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Dalam kaedah usul dikatakan “al-muhafadhah ‘alal qadimis saleh wal akhdu
biljadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi
baru yang lebih baik)”
Dan sekolah Athirah Makassar telah memantapkan langkah, menjajaki konsep pendidikan Islam yang selaras dengan
kemajuan digital teknologi.
Menilik sejarahnya, sekolah Athirah
ini bermula dari keinginan kuat dari sosok Bapak Hadji Kalla dan istrinya, Ibu
Hadjah Athirah yang tak lain merupakan orang tua dari bapak Jusuf Kalla, mantan
wakil presiden RI. Beliau berdua-bapak Kalla dan Ibu Athirah-sangat intens
dalam memajukan pendidikan Indonesia.
Implementasinya pun dihadirkan
melalui sebuah Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam Hadji Kalla yang
diresmikan tepat pada 24 April 1984 dan mulai beroperasi pada tahun
pembelajaran 1985-1986.
Di bawah naungan Yayasan Pendidikan
dan Kesejahteraan Islam Hadji Kalla inilah dibangunlah sekolah formal dengan
nama Sekolah Islam Athirah, sekolah yang banyak dikenal di kota Makassar hingga
sekarang ini.
Nama Athirah sendiri diambil dari
nama sang pendiri, Ibu Athirah yang bermakna harum atau wangi. Penetapan nama
tersebut tak hanya sekadar perwujudan kasih sayang bapak Kalla kepada sang
istri tercinta, tetapi lebih dari itu, makna nama ini juga diharapkan mampu
menjadi spirit bagi civitas akademika Sekolah Islam Athirah, harum dan wangi
dalam menjejak prestasi dan attitude.
Sekolah Athirah memiliki jenjang
pendidikan mulai dari TK – SMA dengan konsep dasar bercirikan Islam, berjiwa nasional, dan
berwawasan global. Dengan kata lain, sekolah Athirah berupaya membentuk
siswanya agar berkeseimbangan dan berkesinambungan dalam ranah kecerdasan
emosional, intelektual, dan spiritual, dan itu semua dilaksanakan dalam setiap
proses pembelajarannya.
Urusan kurikulum pun sudah
disesuaikan dengan kurikulum nasional, namun tetap memiliki pakem atau ciri
khas Athirah. Tak ketinggalan, metode pembelajaran yang dikembangkan juga cukup
adaptif terhadap teknologi dengan metode pembelajaran kekinian yang
memerdekakan siswa melalui pendekatan active learning.
Apa yang dicita-citakan Bapak Kalla
dan Ibu Athirah kiranya telah sejalan dengan apa yang dirumuskan oleh
Kementerian Pendidikan Nasional dimana visi pendidikan 2045 yaitu Insan
Indonesia yang Cerdas Komprehensif dan Kompetitif. Maka tak ayal dikemudian
hari lahirlah generasi-generasi cerdas Athirah dengan segudang prestasinya,
tidak hanya pada wilayah intrakurikuler, tetapi juga pada wilayah
ekstrakurikuler, baik tingkat regional,
nasional, maupun internasional.
Pun demikian, dengan segala
keunggulannya, sekolah Athirah kian tahun kian berkembang pesat, menjadi
rujukan orang tua dalam mempercayakan
pendidikan anak-anaknya. Hingga akhirnya di tahun 1999, dibangunlah
Boarding School Athirah dengan jenjang
pendidikan SMP – SMA untuk putra dan putri dengan lokasi yang terpisah serta
dilengkapi beberapa fasilitas : Ruang Kelas dan Bimbingan Konseling, Ruang
Multimedia, Laboratorium Bahasa, Komputer, IPA (Fisika, Kimia, Biologi),
Perpustakaan, Ruang kegiatan ekstrakurikuler (Studio Band, Studio Musik
Tradisional, Seni Rupa, Seni Tari) Lapangan Sepak Bola, 3 in 1 (Futsal, Basket dan
Bola Volli), kolam renang, area Outbound dan masih banyak yang lainnya. Gedung
asramapun sudah dilengkapi kamar mandi, tempat tidur, lemari pakaian, ruang
Makan serta Masjid.
Boarding School Athirah dalam
perjalanannya menekankan pembinaan pada empat aspek yakni akademik, karakter,
kemandirian dan agama. Dibidang akademik, para siswa akan dibina selama 24
jam oleh gurunya. Diharapakan mereka dapat berprestasi ditingkat kabupaten,
provinsi dan nasional. Kemudian pada aspek karakter, Boarding School Athirah
mengutamakan aspek kejujuran dan kepimpinan. Kemampuan berwirausaha dengan
menguasai life skill adalah hasil yang sangat diharapkan dari aspek
kemandirian. Sedangkan pada aspek agama, para siswa ditargetkan untuk
bisa menghafal minimal 3 juz Al Qur’an disamping kemampuan berbahasa Arab yang
dibimbing oleh dua orang alumni Al Azhar Cairo.
Program Beasiswa Kalla Educare turut
dihadirkan sebagai komitmen yayasan untuk memberikan kesempatan mengecap
pendidikan seluas-luasnya, bagi siswa dari kalangan dhuafa, tanpa terbebani
biaya, dimana dananya berasal dari Lembaga Amil Zakat Athirah
dan Corporate Social Responsibility (CSR) Kalla Group.
Dan yang lebih mengharukan lagi,
sekolah Athirah juga menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui pendidikan
inklusi.
Sebagai informasi, pendidikan
inklusi merupakan pendidikan yang mengakomodasi semua anak, tanpa memperdulikan
keadaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, anak penyandang disabilitas,
anak-anak berbakat, pekerja anak, anak jalanan, termasuk anak di daerah
terpencil, anak-anak dari kelompok etnik dan bahasa minoritas, dan anak-anak
yang tidak beruntung dan terpinggirkan dari kelompok masyarakat.
Pendidikan inklusi juga turut
menyiapkan siswa non ABK menjadi manusia beradab, toleran, serta mampu menghargai
perbedaan, memandang keberagaman sebagai sumber daya bukan sebagai sumber
masalah, menghilangkan diskriminasi dan pengucilan. Kesempatan emas yang
mungkin tidak semua sekolah memiliki program inklusi.
Harapan ke Depan
Pengembangan keterampilan abad 21 serta penguatan literasi
menjadi salah satu modal dasar guna mempersiapkan pendidikan sesuai dengan
kebutuhan individu.
Selaras hal tersebut,
sekolah masa depan harus bisa membangun ekosistem belajar yang membahagiakan, positif,
aman, dan interaksi sosial saling mendukung.
Maka daripada itu
rancangan sekolah ataupun komunitas belajar yang bersifat “futuristik” atau menuju pada masa
depan harus dipersiapkan mulai dari sekarang.
Disinilah pentingnya kolaborasi guru sebagai pendidik,
lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat menciptakan harmoni yang indah
demi suksesnya pendidikan Indonesia.
Harapan penulis, semoga rangkaian
milad ke-37, menjadikan civitas Athirah kian optimis memantapkan langkah,
membuka gerbang masa depan generasi muda Indonesia agar kian berkhidmat untuk
bangsa dan agamanya.
Malang, 23 Mei 2021
*Juara 1 lomba menulis inspiratif, Milad ke 37 tahun Sekolah Islam Athirah

