image

ATHIRAH SEKOLAH MASA DEPAN, WUJUDKAN GENERASI CERDAS DI ERA DIGITAL TEKNOLOGI

Oleh : Era Sofiyah

Konsep dasar keimanan telah digambarkan secara gamblang di dalam Al-qur’an  ketika Luqmanul Hakim  memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. (QS. Luqman 13-19)

Demikianlah, sudah semestinya  setiap orang tua berkewajiban memberikan pendidikan  sesuai dengan fitrah anak, yaitu keimanan kepada Allah SWT. Fitrah ini merupakan  kerangka dasar operasional dari proses penciptaan manusia.

Di dalamnya terkandung kekuatan potensial untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Tentunya pendidikan tauhid dan dasar keimanan tersebut tidak dilakukan begitu saja atau dipaksakan secara cepat kepada anak, tetapi harus disampaikan dengan penuh kasih sayang, menyenangkan, penuh kesabaran, ketekunan serta penuh keuletan seperti yang dicontohkan Lukmanul Hakim maupun baginda Rasulullah SAW.

Betapapun, anak harus mendapatkan perhatian khusus dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar, baik secara jasmani, rohani, maupun sosialnya. Pemantapan akhlak juga perlu diterapkan seiring dengan penerapan keimanan di dalam ruh dan jiwa anak.

Karena  itu, pendidikan dalam konteks keislaman perlu dilihat sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan berkembang, serentak dengan perkembangan individu seorang anak.

Kelak harapannya tentu akan lahir generasi-generasi muslim gemilang yang berkhidmat bagi umat dan bangsa. Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi sosial, emosi dan spiritual.

Langkah Menuju Pembelajaran Masa Depan

Jauh sebelum pandemi menyeruak dunia, yaitu pada 2014, World Innovation Summit for Education (WISE), komunitas internasional yang membahas transformasi pendidikan melalui inovasi,  melakukan survei terkait proyeksi rupa sebuah sekolah pada 2030.

Hasilnya, sebanyak 93 persen ahli pendidikan yang disurvei mengatakan, mereka mendukung sekolah yang menerapkan metode inovatif berdasarkan pendekatan-pendekatan pengajaran baru dan proses kreatif.

Para ahli dari komunitas WISE tersebut memprediksi, sekolah di masa mendatang akan berkembang menjadi jaringan belajar dimana sumber daya dan teknologi akan mendukung jejaring yang saling terkoneksi, berdialog dan bertukar informasi, serta memfasilitasi gerakan menuju pembelajaran kolaboratif.

Masih menurut survei tersebut, 43 persen percaya bahwa konten pembelajaran akan didominasi oleh platform daring. Sementara hanya 29 persen responden berpendapat, sekolah tradisional adalah sumber utama pengetahuan.

Hasil survei diatas menjadi gambaran riil  pembelajaran  hari ini, dengan adanya pandemi yang belum ada ujung pangkalnya.

Model pembelajaran tersebut juga selaras dengan kurikulum 2013 (K-13) yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia. K-13 mengamanatkan optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills) di mana guru didorong untuk terus berinovasi dan berkreasi terhadap pola pembelajarannya.

Bagaimanapun pembelajaran abad 21 akan terus berkembang dan berfokus seiring  kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sehingga dalam proses pembelajaran harus mencapai kecakapan berpikir dan belajar siswa. Konsep ini juga mengubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning) menjadi berpusat pada siswa (student-centered learning).

Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah siswa dapat menghormati, menghargai dan menerima siswa lain sebagai mana adanya komunikasi dan relasi yang efektif. Hal ini sangat diperlukan sebab suasana komunikasi yang  efektif dari peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian memfungsikan dirinya dalam masyarakat secara optimal.

Hal tersebut tentunya sejalan dengan dunia masa depan di mana siswa harus memiliki keterampilan abad ke-21, di antaranya memecahkan masalah, berpikir kritis, kreatif bekerja sama, dan komunikasi.

Kiranya, agar pembelajaran di masa depan bisa terlaksana dengan baik, dibutuhkan sumber daya yang berkompeten dalam kegiatan pembelajaran, terutama bagi guru yang menjadi ujung tombaknya. Guru harus memiliki keterampilan proses pembelajaran yang baik sehingga mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan sehingga siswa bisa menguasai keterampilan abad-21.

 

Athirah, Sekolah Masa Depan

Melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan digital teknologi yang semakin pesat, kiranya pendidikan Islam dituntut untuk bergerak dan mengadakan inovasi-inovasi dalam pendidikan.

Untuk itulah, pendidikan Islam perlu di desain sedemikian rupa, demi menjawab tantangan perubahan zaman, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumberdaya insaninya, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta merekonstruksi metode atau model pembelajaran yang digunakan di dalam pendidikan Islam mengikuti tuntutan anak modern yang selalu kritis dan lebih berpikiran maju.

Selanjutnya, agar pendidikan Islam terus berkembang dan selalu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perlu adanya integrasi antara pendidikan Islam tradisional (dayah/pesantren) dan pendidikan Islam modern.

Pendidikan dayah/pesantren diharapkan  tetap dapat menjaga originalitas ulama. Sedangkan pendidikan Islam modern diharapkan dapat menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Dalam kaedah usul dikatakan “al-muhafadhah ‘alal qadimis saleh wal akhdu biljadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)”

Dan sekolah Athirah Makassar  telah memantapkan langkah, menjajaki  konsep pendidikan Islam yang selaras dengan kemajuan digital teknologi.

Menilik sejarahnya, sekolah Athirah ini bermula dari keinginan kuat dari sosok Bapak Hadji Kalla dan istrinya, Ibu Hadjah Athirah yang tak lain merupakan orang tua dari bapak Jusuf Kalla, mantan wakil presiden RI. Beliau berdua-bapak Kalla dan Ibu Athirah-sangat intens dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Implementasinya pun dihadirkan melalui sebuah Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam Hadji Kalla yang diresmikan tepat pada 24 April 1984 dan mulai beroperasi pada tahun pembelajaran 1985-1986.

Di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan Islam Hadji Kalla inilah dibangunlah sekolah formal dengan nama Sekolah Islam Athirah, sekolah yang banyak dikenal di kota Makassar hingga sekarang ini.

Nama Athirah sendiri diambil dari nama sang pendiri, Ibu Athirah yang bermakna harum atau wangi. Penetapan nama tersebut tak hanya sekadar perwujudan kasih sayang bapak Kalla kepada sang istri tercinta, tetapi lebih dari itu, makna nama ini juga diharapkan mampu menjadi spirit bagi civitas akademika Sekolah Islam Athirah, harum dan wangi dalam menjejak prestasi dan attitude.

Sekolah Athirah memiliki jenjang pendidikan mulai dari TK – SMA dengan konsep dasar  bercirikan Islam, berjiwa nasional, dan berwawasan global. Dengan kata lain, sekolah Athirah berupaya membentuk siswanya agar berkeseimbangan dan berkesinambungan dalam ranah kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual, dan itu semua dilaksanakan dalam setiap proses pembelajarannya.

Urusan kurikulum pun sudah disesuaikan dengan kurikulum nasional, namun tetap memiliki pakem atau ciri khas Athirah. Tak ketinggalan, metode pembelajaran yang dikembangkan juga cukup adaptif terhadap teknologi dengan metode pembelajaran kekinian yang memerdekakan siswa melalui pendekatan active learning.

Apa yang dicita-citakan Bapak Kalla dan Ibu Athirah kiranya telah sejalan dengan apa yang dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan Nasional dimana visi pendidikan 2045 yaitu Insan Indonesia yang Cerdas Komprehensif dan Kompetitif. Maka tak ayal dikemudian hari lahirlah generasi-generasi cerdas Athirah dengan segudang prestasinya, tidak hanya pada wilayah intrakurikuler, tetapi juga pada wilayah ekstrakurikuler, baik  tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Pun demikian, dengan segala keunggulannya, sekolah Athirah kian tahun kian berkembang pesat, menjadi rujukan orang tua dalam mempercayakan  pendidikan anak-anaknya. Hingga akhirnya di tahun 1999, dibangunlah Boarding School Athirah  dengan jenjang pendidikan SMP – SMA untuk putra dan putri dengan lokasi yang terpisah serta dilengkapi beberapa fasilitas : Ruang Kelas dan Bimbingan Konseling, Ruang Multimedia, Laboratorium Bahasa, Komputer, IPA (Fisika, Kimia, Biologi), Perpustakaan, Ruang kegiatan ekstrakurikuler (Studio Band, Studio Musik Tradisional, Seni Rupa, Seni Tari) Lapangan Sepak Bola, 3 in 1 (Futsal, Basket dan Bola Volli), kolam renang, area Outbound dan masih banyak yang lainnya. Gedung asramapun sudah dilengkapi kamar mandi, tempat tidur, lemari pakaian, ruang Makan serta Masjid.

Boarding School Athirah dalam perjalanannya menekankan pembinaan pada empat aspek yakni akademik, karakter, kemandirian dan agama. Dibidang akademik, para siswa akan dibina selama 24 jam oleh gurunya. Diharapakan mereka dapat berprestasi ditingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Kemudian pada aspek karakter, Boarding School Athirah mengutamakan aspek kejujuran dan kepimpinan. Kemampuan berwirausaha dengan menguasai life skill adalah hasil yang sangat diharapkan dari aspek kemandirian. Sedangkan pada aspek  agama, para siswa ditargetkan untuk bisa menghafal minimal 3 juz Al Qur’an disamping kemampuan berbahasa Arab yang dibimbing oleh dua orang alumni Al Azhar Cairo.

Program Beasiswa Kalla Educare turut dihadirkan sebagai komitmen yayasan untuk memberikan kesempatan mengecap pendidikan seluas-luasnya, bagi siswa dari kalangan dhuafa, tanpa terbebani biaya, dimana dananya berasal dari Lembaga Amil Zakat Athirah dan Corporate Social Responsibility (CSR) Kalla Group.

Dan yang lebih mengharukan lagi, sekolah Athirah juga menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui pendidikan inklusi.

Sebagai informasi, pendidikan inklusi merupakan pendidikan yang mengakomodasi semua anak, tanpa memperdulikan keadaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, anak penyandang disabilitas, anak-anak berbakat, pekerja anak, anak jalanan, termasuk anak di daerah terpencil, anak-anak dari kelompok etnik dan bahasa minoritas, dan anak-anak yang tidak beruntung dan terpinggirkan dari kelompok masyarakat.

Pendidikan inklusi juga turut menyiapkan siswa non ABK menjadi manusia beradab, toleran, serta mampu menghargai perbedaan, memandang keberagaman sebagai sumber daya bukan sebagai sumber masalah, menghilangkan diskriminasi dan pengucilan. Kesempatan emas yang mungkin tidak semua sekolah memiliki program inklusi.

Harapan ke Depan

Pengembangan keterampilan abad 21 serta penguatan literasi menjadi salah satu modal dasar guna mempersiapkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan individu.

Selaras hal tersebut, sekolah masa depan harus bisa membangun ekosistem belajar yang membahagiakan, positif, aman, dan interaksi sosial saling mendukung.

Maka daripada itu  rancangan sekolah ataupun komunitas belajar yang bersifat “futuristik” atau menuju pada masa depan harus dipersiapkan mulai dari sekarang.

Disinilah pentingnya kolaborasi guru sebagai pendidik, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat menciptakan harmoni yang indah demi suksesnya pendidikan Indonesia.

Harapan penulis, semoga rangkaian milad ke-37, menjadikan civitas Athirah kian optimis memantapkan langkah, membuka gerbang masa depan generasi muda Indonesia agar kian berkhidmat untuk bangsa dan agamanya.

Malang, 23 Mei 2021

 *Juara 1 lomba menulis inspiratif, Milad ke 37 tahun Sekolah Islam Athirah 

 

Previous PostJaga Kesehatan Tubuh, Guru SD Islam Athirah 1 Makassar Ajak Siswa Olahraga Teratur
Next PostATHIRAH IN RESPONSE TO FUTURE DEMANDS