Sisi Lain Learning From Home (LFH)
Dampak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) merambah ke berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan seluruh lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta, termasuk Sekolah Islam Athirah Bone.
Sekolah Islam Athirah Bone merupakan penyelenggara
pendidikan dengan konsep sekolah asrama (boarding school). Ratusan siswa yang
menempuh pendidikan di sekolah ini berasal dari berbagai daerah di Sulawesi
Selatan bahkan di luar Sulawesi Selatan. Namun kondisi yang kian
memprihatinkan, maka seluruh siswa dipulangkan ke rumah masing-masing demi
meminimalisir penyebaran Covid-19 ini.
Beberapa alternatif kemudian ditempuh untuk mengatasi
kondisi ini, di antaranya pemberlakuan Learning From Home (LFH) bagi
siswa dan Work From Home (WFH) bagi guru dan karyawan. Hal ini dilakukan
sebagai upaya agar siswa tetap belajar di rumah dan tidak ketinggalan materi
pelajaran.
Pandemi Covid-19 memang sebuah ujian berat bagi seluruh
lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang berkecimpung dalam dunia
pendidikan. Namun, ada hal menarik dari kejadian ini yang perlu kita simak
bersama. Ternyata tidak semua daerah memiliki fasilitas yang sama dengan daerah
lainnya, terutama fasilitas sinyal seluler. Sungguh sebuah tantangan besar bagi
mereka yang tinggal di daerah pelosok desa seperti halnya yang dirasakan oleh
beberapa siswa dari pelosok di Kabupaten Enrekang.
Hanya untuk sekadar melakukan panggilan telepon dan SMS
saja susah, apalagi sinyal internet. Namun hal tersebut tak menyurutkan
semangat belajar siswa tersebut, ia rela menempuh perjalanan dengan berjalan
kaki mendaki gunung dari pagi hingga sore demi mendapatkan sinyal internet. Sungguh
perjuangan yang luar biasa untuk tetap mengikuti pembelajaran daring, meski
terik membakar kulit.
Tidak hanya siswa, nasib yang sama juga dialami oleh
seorang guru. Guru yang akrab disapa Bu Fitri pengampu mata pelajaran
matematika yang juga berasal dari kabupaten penghasil salak dan bawang merah
itu. Ia harus naik turun gunung setiap hari, namun kondisi itu tak menciutkan
semangatnya demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia sempat menyampaikan bahwa
kendala pertama yang ia alami selama WFH adalah sinyal internet yang tidak
memadai. Kendala lainnya adalah mata pelajaran yang ia ajarkan adalah
matematika yang menurutnya lebih baik dengan penjelasan secara langsung karena
ia mampu membaca kondisi siswa yang kurang paham sehingga ia bisa memberikan
penjelasan lebih baik saat itu juga. Namun lagi-lagi semangatnya tak pernah
padam, ia menyampaikan bahwa semua rintangan adalah harus dilalui sebab
tanggung jawab moral untuk membimbing siswa entah bagaimanapun kondisinya.
Perjuangan siswa dan guru dari pelosok Enrekang ini
membuat kita tersadar akan pentingnya sebuah pendidikan. Melihat betapa besar
perjuangan seorang siswa demi mendapatkan penejelasan dari gurunya dan
perjuangan guru mencerdaskan siswanya. Sudah saatnya kita intropeksi diri dan
lebih banyak bersyukur karena dilengkap fasilitas dan sinyal memadai sehingga
proses belajar mengajar dari rumah menjadi mudah. Semoga bangsa ini segera
terbebas dari wabah corona dan kondisi negeri kembali seperti sediakala.
Kajuara, 07 April 2020
Nurmalasari

