Membangun Trust
Nama Ustadz Kamal di Perumahan Bukit Baruga dan Sekolah Islam Athirah sudah sangat dikenal. Beliau melalui lembaga AQL Center mendirikan Rumah Tahfizh Al Quran gratis. Beliau bukan orang kaya yang mampu membiayai seluruh operasional rumah tahfizh.
Beliau hanya punya impian agar anak-anak bisa belajar Al Quran dan biaya tidak menjadi kendala.
Impian itu disampaikannya kepada banyak orang saat ceramah dan acara lainnya. Akhirnya banyak orang tergerak hatinya untuk membantu. Ada yang meminjamkan rumahnya untuk ditinggali santri secara gratis. Sampai hampir ada 10 rumah yang dipinjamkan dan diisi oleh ratusan santri. Ada juga yang menyiapkan makanan tiap hari. Bahkan ibu-ibu di perumahan bergerak mengatur jadwal sendiri kapan giliran suplai makanan.
Sampai akhirnya wabah covid melanda dunia. Semua santrinya pun dipulangkan ke rumah masing-masing. Seiring waktu saat covid mulai mereda khususnya di daerah, Ustadz Kamal kembali mengaktifkan program tahfizh tapi bukan di Makassar. Beliau pulang kampung dan membuka pesantren di Tonra Bone. Area yang awalnya lahan kosong dibangun bersama santri. Bantuan datang dari banyak pihak. Sampai akhirnya berdiri masjid, asrama dan tempat belajar yang bisa menampung 600 santri. Semua gratis.
Bisa dibayangkan jika setiap bulan biaya makan dan lainnya 1 juta per santri maka butuh 600 juta perbulan. Dari mana dananya? Dari para donatur yang percaya kepada Ustadz Kamal. Itulah kekuatan kepercayaan, the power of trust. Jika seseorang sudah dipercaya maka orang akan mudah untuk membantu.
Apa saja komponen dari kepercayaan atau trust? Steven M.R. Covey dalam bukunya Speed of Trust menyebutkan ada 4 komponen dari trust yaitu integritas, niat baik, kemampuan dan hasil. Mari kita lihat satu persatu. Integritas bisa diartikan kesatupaduan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Jika apa yang diucapkan sesuai dengan yang dilakukan maka disebut jujur. Orang Bugis menyebut taro ada taro gau. Pada saat orang lain menitipkan sesuatu maka dapat ditunaikan dengan baik. Istilah agamanya yaitu amanah. Jadi jujur dan amanah merupakan ciri utama integritas.
Komponen kedua yaitu niat yang baik. Maknanya di sini bukan hanya apa yang dilakukan punya manfaat tapi juga jauh dari kepentingan pribadi. Kadang kita melakukan sesuatu yang bermanfaat tapi disertai maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Peribahasa mengatakan ada udang di balik batu. Bagi orang yang terpercaya segala yang dilakukannya untuk kepentingan bersama dan orang lain. Selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
Seorang guru yang menjadi tim inti Ustadz Kamal menceritakan mengapa para gurunya tetap setia meskipun gajinya tidak pasti dan juga kecil. Padahal ada banyak tawaran dari tempat kerja lain yang menjanjikan gaji yang besar. Mereka melihat Ustadz Kamal tidak mengambil keuntungan pribadi dari aktivitasnya. Tempat tinggal beliau yang paling sederhana dibandingkan para guru. Beliau rela berkorban tenaga dan harta untuk kepentingan santri dan guru.
Integritas dan niat baik merupakan komponen karakter. Hal ini belum cukup untuk membangun trust. Butuh kompetensi yang dibangun dari kemampuan dan hasil. Seseorang kita percayai karena kita tahu dia mampu melaksanakan tugas dengan baik. Punya pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja profesional. Jika kita sakit maka kita ke dokter karena kita yakin dokter itu punya kompetensi mumpuni. Meskipun kita punya teman yang baik, jujur dan ramah kita tidak akan minta resep obat kepada teman kita tersebut jika kita sakit. Teman kita punya karakter tapi tidak punya kompetensi.
Komponen terakhir dari trust yaitu hasil. Berbekal kemampuan maka tentu saja hasilnya akan sesuai harapan. Hasil ini membangun reputasi. Seorang dokter yang terpercaya juga dilihat dari reputasinya. Testimoni dari para pasiennya akan menjadi bukti reputasinya. Rumah Tahfizh AQL juga sudah menunjukkan reputasinya. Pada setiap wisuda akbar ada banyak santri yang hafal 30 juz.
Mari bangun trust pada diri kita masing-masing dengan memiliki integritas, niat baik, kemampuan dan hasil. Jika seluruh rakyat dan juga pemimpin di negeri ini merupakan orang yang dapat dipercaya maka tidak akan ada kejahatan dan korupsi. Indonesia yang sejahtera lahir dan batin akan segera terwujud. Mari juga introspeksi diri. Sudah sejauh mana diri kita dapat dipercaya? Mari periksa integritas, niat baik, kemampuan dan hasil kerja kita selama ini.
Makassar, 10 Januari 2022
Syamril Al Bugisyi

