Hentikan Jalan Kekerasan

Author :

Dua pekan terakhir dunia dipenuhi dengan berita perang Rusia melawan Ukraina. Hal ini berawal dari invasi Rusia kepada Ukraina.

Keduanya negara bertetangga yang dahulu bersama sebagai Uni Sovyet sampai dengan tahun 1991. Setelah Uni Sovyet bubar maka Rusia dan Ukraina serta 13 negara lainnya menjadi negara yang masing-masing berdaulat dan diakui oleh PBB. 

Meskipun dahulu sama-sama di Uni Sovyet tapi ternyata tidak membuat mereka hidup berdampingan dengan damai. Seiring dengan perjalanan waktu muncul konflik antar keduanya semakin membesar. Pada tahun 2014 Rusia menyerang Crimea wilayah Ukraina dan menguasainya sampai sekarang. Alasannya mayoritas rakyat di Crimea beretnis dan berbahasa Rusia. Jadi ada alasan sosiologis. Tentu aja ada alasan geopolitik dan ekonomi karena posisi Crimea yang strategis. 

Permusuhan antara keduanya terus berkembang dan tentu saja Ukraina sebagai negara kecil dibandingkan Rusia perlu mencari perlindungan. Maka Ukraina mengajukan diri untuk menjadi anggota Uni Eropa dan NATO agar dapat teman yang membela jika Rusia kembali menyerang. Namun ternyata hal itu membuat Rusia murka. Jika Ukraina menjadi anggota NATO maka sangat membahayakan Rusia. Persenjataan NATO akan hadir di dekat Rusia yang dapat mengancam setiap saat. 

Akhirnya Rusia pun bertindak. Pada tanggal 24 Februari 2022 Rusia menginvasi Ukraina. Menyerang dengan kekuatan penuh dari segala penjuru dan matra darat, laut dan udara. Mengerahkan 150.000 pasukan dan ribuan tank, artileri, rudal, pesawat tempur dan peralatan perang lainnya.  

Tentu saja antara kekuatan Rusia dan Ukraina tidak seimbang. Rusia sebagai negara besar memiliki persenjataan yang jauh lebih kuat dari Ukraina. Pada hari pertama pasukan Rusia dengan mudah memasuki Ukraina. Kota kecil di dekat perbatasan mulai direbut.  Serangan Rusia terus maju dan bergerak menuju kota Kiev ibukota Ukraina. Targetnya menguasai ibukota dan menjatuhkan pemerintahan yang sah. 

Semula Rusia memperkirakan hanya butuh waktu maksimal 10 hari sudah dapat mengusai Ukraina. Namun ternyata tentara Ukraina  didukung oleh rakyat dapat melawan dan menahan gempuran Rusia. Hari ini 8 Februari 2022 telah memasuki hari ke-13. Belum ada tanda-tanda Ukraina akan kalah. Malah bisa jadi semakin kuat karena datangnya bantuan persenjataan dari Uni Eropa dan AS. Juga bantuan sukarelawan dan legiun asing dari berbagai negara.

Jika tidak ada perundingan damai untuk menghentikan peperangan maka perang ini bisa berlangsung lama. Malah bisa terekskalasi ke arah perang yang lebih luas dan besar menjadi Perang Dunia Ketiga. Senjata nuklir menjadi ancaman yang dapat menghancurkan manusia. Semoga itu tidak terjadi. Cukuplah Perang Dunia I dan II sebagai pelajaran berharga. 

Setiap peperangan hanya akan mengakibatkan penderitaan. Perang baru berlangsung 12 hari saja sudah memakan ribuan korban militer dan sipil. Bangunan dan fasilitas umum hancur. Jutaan rakyat mengungsi mencari perlindungan dan keamanan. Belum lagi dampak psikologis berupa trauma dan ketakutan.

Apalagi di era global sekarang ini. Dampak peperangan khususnya pada bidang ekonomi dengan mudah meluas ke seluruh dunia. Harga minta dunia sudah naik ke angka 139 US$ per barel. Angka tertinggi sejak 2008. Ini akan berdampak pada kenaikan harga barang lainnya. 

Semoga Presiden Rusia dan Ukraina dapat segera bertemu di meja perundingan dan sepakat menghentikan peperangan. Permasalahan tidak selalu harus diselesaikan dengan kekerasan. Jalan perang hanya menjadikan semua pihak dalam kehancuran. Pepatah mengatakan "kalah jadi abu, menang jadi arang". Rakyat menderita, ekonomi hancur, permusuhan terus tersimpan beberapa generasi. 

Semoga para pemimpin dunia juga dapat berperan aktif mewujudkan perdamaian. Tentu saja kita berharap Indonesia dapat berperan. Semangat Pembukaan UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia dapat menjadi dorongan. Mari doakan agar dunia kembali damai tanpa peperangan. Hentikan jalan kekerasan. Tempuh jalan perdamaian.

Previous PostPerintah Khusus
Next PostMengelola Perubahan
ARSIP MESSAGE OF THE DIRECTOR