Merdeka Jiwa dan Raga
Pada hari Ahad 13 Agustus 2023 lalu, LLDikti Wilayah IX Sultanbatara (Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara) mengadakan acara senam bersama dalam rangka pembukaan lomba Hari Kemerdekaan antar Perguruan Tinggi Swasta. Acara ditandai dengan pelepasan burung ke alam bebas.
Terdengar kicau burung terbang dan hinggap di pohon mangga di lokasi acara. Burung-burung itu bahagia, senang dan gembira karena telah merdeka. Lepas dari sangkar yang selama ini memenjarakan raganya.
Bagi burung dan binatang lainnya merdeka indikatornya cukup merdeka raga. Tapi bagi manusia, merdeka indikatornya adalah merdeka jiwa dan raga. Dari aspek jiwa dan raga ini ada 3 jenis manusia merdeka. Pertama yaitu merdeka raga, jiwa terjajah. Kedua yaitu merdeka jiwa meski raga terjajah. Ketiga yaitu merdeka jiwa dan raga.
Pada masa penjajahan sebagian besar rakyat Indonesia merdeka raga dalam arti fisiknya tidak dipenjara. Mereka tetap bebas secara fisik tetapi tidak bebas dalam berpikir, berucap dan bertindak. Penjajah Belanda dan Jepang membuat banyak aturan yang membatasi pikiran, perkataan dan perbuatan rakyat jajahannya. Jika ada yang berani melanggar aturan, bisa dihukum penjara bahkan hukuman mati. Itulah kategori merdeka raga tapi jiwa terjajah.
Beberapa orang yang berani memerdekakan jiwanya akhirnya ditangkap dan dipenjara. Lihatlah para pemimpin perjuangan melawan penjajah. Pangeran Diponegoro dipenjara sampai meninggal dunia di Makassar. Soekarno dipenjara di Bandung. Namun di dalam penjara mereka semua tetap merdeka. Bahkan bisa menghasilkan karya luar biasa.
Pangeran Diponegoro menulis Babad Diponegoro yang diakui sebagai warisan sejarah dunia oleh UNESCO. Soekarno menulis buku Di Bawah Bendera Revolusi yang berisi tentang gagasan Indonesia yang merdeka.
Perlawanan dan perjuangan secara fisik dan non fisik yang dilakukan oleh para para pahlawan, bertujuan untuk meraih kemerdekaan jiwa dan raga. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ingin membebaskan diri dari penjajahan. Merdeka jiwa dalam arti bebas menentukan tujuan dan jalan hidup bangsa dan negara yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan perdamaian dunia.
Kemerdekaan diraih melalui pengorbanan jiwa dan raga. Ribuan nyawa para pejuang gugur sebagai syuhada sejak awal penjajahan sampai dengan perang kemerdekaan tahun 1945 - 1949. Ratusan pahlawan nasional sebagai pemimpin perlawanan telah ditetapkan oleh pemerintah. Menandakan banyaknya perlawanan dan perjuangan kepada penjajah untuk meraih kemerdekaan jiwa dan raga.
Menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke 78, mari kembali mengingat jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga. Mari doakan mereka agar diampuni segala dosanya dan diberi tempat yang layak di sisiNya. Semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia. Berbuah Indonesia merdeka dan juga pahala bekal di kehidupan akhirat yang kekal.
Mari syukuri nikmat kemerdekaan dengan cara bekerja keras, cerdas, antusias dan berintegritas untuk memajukan Indonesia Raya. Membangun Indonesia menjadi negeri yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Tantangan ke depan semakin berat di tengah geo politik dunia yang serba tidak menentu. Dibutuhkan patriotisme baru untuk menjaga keutuhan Indonesia. Nasionalisme yang berpikir global, bertindak lokal dan tetap memiliki harga diri dan jiwa merdeka di tengah percaturan dunia. Dirgahayu Repubik Indonesia ke 78. Merdeka.

