Akhir Masa Jabatan
Mulai hari Selasa 5 September 2023, ada 10 gubernur di Indonesia yang berakhir masa jabatannya, termasuk Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman. Sebagai pengganti sementara sebelum terpilih Gubernur baru Presiden menunjuk Direktur Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Bahtiar sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel).
Itulah jabatan. Seperti halnya kehidupan, ada awal juga ada akhir. Akhir sesuatu bisa berada dalam 3 keadaan yaitu buruk, biasa, dan baik. Indikator umumnya yaitu jawaban dari pertanyaan "jika kamu tidak ada, apakah orang lain merasa kehilangan?" Jika orang merasa kehilangan yang sangat besar, itu indikasi bahwa ia berakhir dengan baik. Seperti halnya kematian anggota keluarga yang sangat dicintai. Sedih yang mendalam karena kehilangan.
Jika orang merasa biasa aja dengan berakhirnya masa jabatan sang pemimpin, itu indikasi pemimpin tersebut juga biasa aja. Kondisi yang ketiga yaitu berhentinya membuat orang yang dipimpinnya senang. Bahkan mungkin adakan syukuran. Ini bisa jadi indikasi berakhir dengan buruk.
Tentu setiap pemimpin tidak ingin berakhir dengan buruk. Mereka ingin berakhir dengan baik. Apa saja yang harus diperhatikan agar dapat berakhir dengan baik? Hal ini bisa dijawab dengan menjawab pertanyaan "apa saja yang dikenang oleh bawahan dari seorang pemimpin?"
Ada 5 jenis kenangan pada seorang pemimpin yaitu rasa, rasio, prestasi, kaderisasi dan inspirasi. Kenangan pertama kepada seorang pemimpin biasanya pada sisi rasa. Bawahan biasanya senang dengan pemimpin yang ramah, rendah hati, suka berbagi, lembut dalam berbicara, tidak menyinggung perasaan, tidak suka marah dan lainnya. Semua terkait dengan rasa.
Kenangan kedua yaitu rasio terkait kecerdasan, wawasan, ilmu pengetahuan, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah dan lainnya. Semua terkait dengan kemampuan berpikir dan keluasan pengetahuan. Apalagi jika mampu menyampaikannya melalui narasi yang memukau. Maka akan menjadi kenangan indah pemimpin yang smart. Lihatlah Presiden RI ke 3 yaitu BJ. Habibie. Contoh pemimpin yang smart.
Rasa dan rasio cepat teramati dan menjadi kenangan awal yang indah. Namun itu tidak cukup. Seiring berjalannya waktu bawahan ingin ada prestasi atau perubahan menjadi lebih baik. Pemimpin hadir bisa mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Target dapat dicapai bahkan terlampaui. Biasanya pemimpin seperti ini jika maju kembali pada Pilkada akan mudah terpilih lagi. Prestasi dan reputasinya terbukti.
Selanjutnya setelah rasa, rasio, dan prestasi maka akan lebih baik jika pemimpin melahirkan pemimpin baru melalui kaderisasi atau pembinaan. Organisasi yang mapan dan berkelanjutan jika kaderisasinya berjalan dengan baik. Lihatlah institusi militer yang memiliki sistem kaderisasi yang baik. Pendidikan, pelatihan dan persiapan calon pemimpin dilakukan dengan baik. Tidak ada pemimpin karbitan. Semua harus melalui proses yang jelas dan berjenjang. Pemimpin yang membina dan mengkader bawahannya dengan baik akan dikenang sebagai pemimpin yang hebat.
Selain itu pemimpin juga dikenang karena kemampuannya menginspirasi rakyat atau bawahannya. Lihatlah Presiden Soekarno pada masa awal kemerdekaan. Orasinya yang luar biasa mampu menginspirasi dan memotivasi bahkan memobilisasi rakyat Indonesia untuk berjuang sampai titik darah penghabisan mempertahankan kemerdekaan.
Nasehat dan wejangannya menjadi petunjuk bagi bawahan untuk menjadi lebih baik. Perilakunya menjadi contoh dan rujukan. Maka wajar saja menjadi kenangan indah meskipun telah tiada. Lihatlah Muhammad SAW. Telah wafat 1400 tahun yang lalu. Namun nasehatnya masih hidup bersama ummatnya.
Semoga para gubernur yang menyelesaikan tugasnya pada tanggal 5 September 2023 ini berakhir dengan baik. Husnul khatimah. Juga kita yg sedang mengemban amanah sebagai pemimpin pada setiap level. Saat nanti berhenti, dikenang tidak hanya pada sisi rasa dan rasio tapi juga prestasi karya nyata, kaderisasi dan inspirasi. Menjadi contoh baik bagi orang lain. Aamiin.
Makassar, 5 September 2023

