Rasa Pasca Banjir
Bukan hanya benda-benda dan material yang campur aduk karena banjir bandang. Juga perasaan kita ikut campur aduk karena menyaksikan kejadian banjir Sumatera dari berbagai channel. Berita setiap hari di TV Nasional, share dari media sosial dan platform lainnya. Ada rasa sedih, haru, geram, marah kecewa dan juga harap.
Sedih mendengar jumlah korban jiwa hampir 1000 orang. Hampir 500 orang yang hilang belum ditemukan. Sedih melihat rakyat yang menderita. Hanya minum air hujan, tidak makan selama beberapa hari. Beberapa kampung hilang tertimbun tanah. Sedih melihat bapak kehilangan istri dan anak-anaknya, ibu kehilangan suaminya, anak kehilangan orang tuanya.
Sedih melihat luasnya area kerusakan akibat banjir bandang, khususnya di Aceh melebihi waktu tsunami tahun 2005. Memang tsunami jumlah korban sangat besar karena menyapu kota kota besar. Tapi banjir bandang di Aceh diperkirakan meliputi lebih 70% kabupaten yang ada.
Ada rasa haru melihat perjuangan para korban banjir untuk saling menjaga dan membantu. Terharu melihat ketabahan dan kesabaran mereka menghadapi semua musibah dan bencana. Terharu melihat Gubernur Aceh Muallem menangis menceritakan ada kampung yang hilang.
Juga terharu melihat para relawan dengan cepat turun tangan membantu baik lokal maupun nasional. Dari lembaga sosial, Perguruan Tinggi di Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Terharu melihat donasi yang dikumpulkan baik personal atau lembaga ZIS, juga luar biasa. Ada yang kumpulkan donasi 10 Milyar dalam sehari. Dalam waktu sepekan ratusan milyar dana terkumpul. Ini menunjukkan rakyat Indonesia sangat peduli dan dermawan.
Juga ada rasa geram mendengar analisa para ahli bahwa banjir ini bukan bencana alam murni tapi karena kerusakan hutan yang sangat parah. Terbukti banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus sungai. Inilah yang banyak merusak rumah warga dan fasilitas umum. Geram dan marah kepada para pengusaha serakah yang hanya mencari untung secara ekonomi tanpa memikirkan aspek sosial dan lingkungan hidup.
Geram dan marah kepada oknum pejabat pemerintah dan aparat hukum yang diduga melakukan pembiaran tanpa kontrol yang ketat kepada pengusaha nakal perusak hutan. Geram dan marah kepada para pejabat dan mantan pejabat yang jadi pelindung mereka, ikut terlibat dan menikmati keuntungan dari bisnis ini.
Juga ada rasa kecewa kepada pemerintah karena pada awal kejadian ada kesan lambat bergerak. Hingga terjadi perdebatan apakah ini bencana nasional atau bukan. Kecewa dan marah karena ada pejabat yang memanfaatkan kejadian banjir untuk pencitraan. Datang memanggul beras ke pengungsi disorot kamera. Entah apa maksud dari itu semua. Padahal data menunjukkan pada masa pejabat itu menjadi Menteri Kehutanan ijin alih fungsi lahan hutan sampai jutaan hektar.
Juga ada rasa takut jangan sampai kejadian ini akan terjadi di wilayah lain. Kerusakan hutan hampir merata di seluruh pulau di Indonesia. Rasa takut jika wilayah lain tinggal menunggu giliran banjir bandang. Jika terjadi cuaca ekstrem maka erosi, longsor dan banjir bandang akan datang. Ada rasa takut kembali jatuh korban jiwa dan harta yang besar. Bahkan lebih besar dari yang ada sekarang di Sumatera.
Akhirnya tetap ada rasa harap. Kejadian ini jadi pelajaran berharga bagi semua baik rakyat maupun pejabat. Berharap muncul kesadaran untuk menjaga hutan. Berharap muncul kesadaran untuk menjadi pemimpin yang amanah. Berpihak pada kepentingan rakyat bukan oligarki dan pengusaha jahat. Segera mengambil pelajaran agar kejadian banjir bandang tidak terulang. Berharap Allah tetap melindungi kita semua.

