image

BILA REMEDIAL TERUS MENGHADANG

    Ternyata remedial seperti petir disiang bolong, dimana menjadi momok yang yang tidak diharapkan  Peserta Didik, karena ada yang beranggapan kalau remedial itu adalah tamu yang tidak diundang yang terus menghadang langkah kaki pada mata pelajaran tertentu yang selalu bertaburan nilai tidak tuntas, dan kondisi diperparah kalau menjadi langganan tetap remedi. Makanya disetiap akhir ujian para Peserta Didik terkadang dilanda H2C atau Harap-harap cemas, dengan satu pertanyaan apakah nilai ujian sudah tuntas atau malah remedial?. Tentu secara psikologi yang terjadi adalah perasaan kecewa, gundah gulana, dan seribu satu hal menghantui pemikiran Peserta Didik ketika nilai di bawah standar Kriteria Ketuntasan Minimal pada mata pelajaran tersebut.

    Rasa kecewa terpancar di wajah Peserta Didik ketika mendengar namanya disebut-sebut sebagai daftar yang remedial. Biasanya Peserta Didik yang sering langganan remedial karena mereka yang kurang memilki rasa sensistif untuk sebuah perubahan yang lebih baik pada dirinya. Intinya adalah kurang peduli dan kurang daya juang dalam mempersiapkan diri mengikuti ujian dan lainnya. Sementara mereka yang lolos dari remedial adalah sosok yang punya kepeduliaan tinggi dan kepekaan untuk maju  menjadi lebih baik karena mempersiapkan diri menghadapi ujian sebagai medan perang yang harus ditaklukkan.

     Ada pepatah yang cukup tersohor sering kita dengar ketika kita menghadapi kondisi kurang beruntung, yaitu “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Sudah malas ikut belajar di kelas alias bolos, jarang kumpul tugas, ikut remedial pula. Jika demikian kondisinya maka tunggu saja akan bertaburan remedial  untuk selanjutnya. Tentunya nilai rapor akan bertaburan nilai tidak tuntas dan sudah tentu akan berpengaruh pada sesi penaikan kelas. Dari informasi bapak dan ibu guru diperoleh data bahwa Peserta Didik yang selalu remedi karena  akibat malas kumpul tugas dan sering menghilang dari kelas, serta tidak aktif melakukan komunikasi ke gurunya. Begitu dibuka sesi penguatan mata pelajaran yang di remedial ia menghilang dengan banyak alasan. Sehingga ketika diujikan kembali materi yang tuntas tersebut, terpastikan nilainya tidak tuntas, dan tentunya pintu remedial sudah di depan mata menunggu.

    Remedi, oh remedi. Sesungguhnya tidak perlu ada remedial ketika niat belajar Peserta Didik mampu diimplementasikan dengan baik di kelas saat menerima materi, seperti pro aktif menerima materi, bertanya ketika belum paham, serta menggiatkan komunikasi intens dengan guru mata pelajaran. Dengan demikian mulai sekarang  ayo bangkit mengejar nilai tuntas  dengan mengedepankan pemahaman  bahwa remedial bukan akhir segalanya. Berdiri tegak mulai sekarang dan nyatakan dengan niat yang tulus bahwa saya bisa mengejar ketertinggalan itu, dan akan menjadi yang terbaik.

    Nah, berikut beberapa tips agar tidak selalu berlangganan dengan remedial, yaitu; 1) berdoa agar selalu diperkaya ilmu pengetahuan, dan jangan lupa dimudahkan untuk menerima materi pelajaran, 2) belajar kembali secara mandiri saat waktu luang di rumah, 3) Tuntaskan tugas mata pelajaran  sebelum deadline pengumpulan tugas berakhir, 4) biasaan mencatat rumus-rumus penting untuk memudahkan dipelajari selanjutnya, 5) minta didoakan sama kedua orang tua, karena doa orang tua adalah cahaya yang mampu menggerakkan hati yang gelap untuk belajar, 6) berlaku sopan sama bapak dan ibu guru sebagai pengantar ilmu, jika niat dan sikap baik, yakinlah ilmu lancar mengalir ke dalam hati kita.


Penulis : Tawakkal Kahar

Previous PostSMA ISLAM ATHIRAH 1 MAKASSAR MENGGELAR KEGIATAN YANG BERTAJUK PEMUDA BICARA
Next PostTerpilih sebagai Duta Literasi Athirah 2020, Ufairah Tertantang Sebarkan Virus Membaca.