image

Kisahku berada di antara Fiksi dan Non Fiksi

Oleh : Sukaena, S.Pd

18 Januari 2018

Kisahku berada di antara Fiksi dan Non Fiksi

---------------------------------

Ini bukan cerita tapi bukan juga khayalan maupun fiksi.

Kisah ini berawal dari kelahiran anak bungsu saya, Syifa.

Saat itu saya masih sedang menunggu kelahiran si bungsu di salah satu rumah sakit bersalin di kota Makassar, RSIA St. Khadijah. Lalu sekitar jam 11 malam, dokter menyampaikan bahwa saya harus dioperasi dan tidak bisa melakukan persalinan secara normal. Alhasil keesokan harinya, operasi pun berjalan dan diangkatlah sang janin dari rahim saya. Saat melihat sang bayi terlahir dengan selamat, rasanya benar-benar sangat bersyukur. Namun setelah itu saya mengalami pendarahan hebat dan dokter mengatakan bahwa rahim saya harus diangkat. Saya pun akhirnya tak sadarkan diri. Suami jadinya harus rela bolak balik kesana kemari demi mencari stok darah secepat mungkin.

Dokter kemudian memberi saran untuk dirujuk ke Rumah Sakit Regional DR. Wahidin karena kekurangan alat dan penunjang lainnya. Mereka bahkan sudah menyerah dan meminta untuk segera dipindahkan. Tapi ada kabar yang membuat saya benar-benar bersyukur. Menurut suami, saat dinaikkan ke atas ambulans, beberapa rekan kerja saya datang menemani. Seperti Pak H. Ikhsan, Bu Titi, hingga ibu kepala sekolah, Bu Nila, turut mengantar. Mereka juga katanya sempat menitikkan air mata karena sangat khawatir dengan kondisi saya yang sudah terlihat sangat parah.

Beruntung, ketiga anak saya yang lain, yang meski sudah ditinggal ibunya hingga 12 jam di parkiran, tidak banyak merengek dan malah sibuk bermain. Beberapa teman guru yang lain pun dengan sukarela mengambil dan menjaga mereka selama saya dirawat.

Sesampainya di rumah sakit Wahidin, saya langsung dipasangi berbagai macam selang. Suami disisi lain sedang sibuk mengurus administrasi agar proses perawatan bisa segera dilakukan dan tidak ditunda-tunda lagi.

Dan ada satu lagi pengalaman yang sepertinya tidak akan terlupakan.

Saat masih dalam keadaan koma, saya di datangi delapan sosok berjubah yang mengajak saya menuju suatu tempat yang sangat indah. Keindahan yang sepertinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka lalu meminta saya untuk tinggal dan menetap. Katanya saya tidak akan menderita lagi disana.

Mungkin itulah yang dinamakan syahid saat melahirkan.

Namun saya tetap kekeuh meminta agar bisa kembali. Lalu akhirnya, setelah melalui beberapa proses “perjanjian”, saya bisa kembali membuka mata dan kembali ke dunia. Di sekeliling saya pun sudah berdiri beberapa dokter beserta suami yang sangat bersyukur melihat kondisi saya yang katanya bahkan hanya sekitar 5% untuk bisa selamat. Mungkin ini juga berkat suami yang terus ngotot agar penanganan tetap dilakukan secara maksimal. Beberapa bahkan memuji perjuangannya, karena dia memang sempat berdebat dengan petugas. Namun berkat usaha dan doa itulah, akhirnya kami bisa sampai titik finish dan Alhamdulillah saya bisa melihat dunia kembali.

 

Previous PostAKREDITASI “A” UNGGUL SMA ISLAM ATHIRAH 1 MAKASSAR
Next PostBerkomitmen Maju Bersama, SMA Islam Athirah Bone Sharing Program Tahfidz Ke UPT SMAN 1 Bone